Pages

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 28 April 2008

Televisiku, partner belajarku

oleh Ahmad Shofi

Siapa yang yang tidak kenal televisi? Semua orang pasti mengenalnya. Padahal, televisi bukan makanan, minuman, ataupun jajanan ringan. Artinya, televisi bukanlah kebutuhan primer. Mulai kecil, kita sudah terbuai dengan makhluk ini. Budaya baca-tulis pun kini berubah haluan menjadi budaya melihat. Televisi benar-benar telah menjadi teladan bahkan trend baru bagi semua orang, termasuk anak-anak. Orang tua yang seharusnya membimbing anak-anaknya belajar, seakan terperangkap oleh jeratan sinetron. Semuanya hilang kendali. Apa yang sebenarnya terjadi?

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan televisi. Televisi telah memberikan manfaat luar biasa terhadap perkembangan peradaban umat manusia. Namun, pelaku pertelevisian terkadang ngawur dalam menempatkan acaranya. Orang-orang yang ada di balik layar seakan lepas tangan apabila ada sesuatu yang merugikan pemirsanya. Membludaknya tayangan yang tidak mendidik semakin banyak beredar. Mulai dari pengenalan seks yang salah kaprah, gosip selebritis yang tidak penting, sinetron-sinetron cengeng, berita kriminalitas yang berlebihan, reality show dan masih banyak lagi. Kulitas tayangan televisi yang memberdayakan anak pun sangat sedikit sekali. Hampir semua tayangannya memberikan dampak yang negatif.

Kita semuanya menyadari, hampir semua sinetron Indonesia memiliki kualitas rendah. Mereka semua tidak mengedepankan sisi moralitas. Sinetron Indonesia justru menjadikan anak-anak dan remaja menjadi cengeng, pemalas, pemberontak, utopis, dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan serta nilai-nilai moral. Yang sangat disayangkan adalah sedikitnya tayangan yang bermanfaat.

Saya sebenarnya cukup geli bahkan sedikit tergelitik dengan orang-orang yang ada di balik layar televisi. Mereka sebenarnya tau tayangan apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia sekarang ini. Tetapi, keuntungan material yang melimpah ruah seakan telah membutakan mata. Mereka seakan emoh dan gak mau tau dengan masyarakat. Pedomannya adalah ’asal gue untung’. Padahal, Kalangan remaja (pelajar) ­­­­­­­­­yang nantinya akan meneruskan perjuangan bangsa ini ke arah yang lebih baik sangat merindukan tayangan yang menyuguhkan dunia pendidikan. Namun, tayangan tersebut merupakan mimpi yang hanya bisa terbang di awang-awang. Sangat sedikit untuk tidak mengatakan tiada sama sekali televisi yang menayangkannya. Tetapi, setelah sekian lama menanti, akhirnya pelajar bisa sedikit tersenyum lega. Karena, keinginan mereka untuk menikmati tayangan yang memang pas dengan dunia mereka sudah terwujud. Yap, stasiun televisi milik pemerintah di bawah payung Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menayangkan program khusus mengenai dunia pendidikan lewat teve education. Sayangnya, program tersebut kurang berjalan maksimal.

Padahal, teve education benar-benar menjadi obat dahaga bagi pelajar masa kini. Berbagai macam pengetahuan, informasi, pengalaman yang berharga bisa mereka dapatkan. Mereka yang merasa kesulitan dalam mengerjakan soal seperti matematika, fisika, kimia, bahasa, dan lain-lain akan mendapatkan masukan setelah menonton channel ini. Seabrek trik-trik jitu mengerjakan soal, beragam sumber belajar, berbagai metode, dan media yang efektif tersaji lengkap. Tidak hanya bermanfaat untuk siswa, kalangan guru pun merasa bersyukur dengan adanya program ini.

Sekolah bukanlah satu-satunya sumber belajar. Oleh karena itu, banyak siswa yang mengikuti bimbingan setelah menyelesaikan sekolah formalnya. Bagi kalangan menengah ke atas, tidak sulit untuk mencari Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) yang bonafide. Biaya seakan menjadi prioritas yang kedua. Tetapi, kita juga harus membayangkan saudara-saudara kalangan menengah ke bawah. Mereka adalah masyarakat marginal yang butuh perhatian. Mereka tentu tidak sanggup untuk membayar beban tersebut. Di sinilah media televisi semestinya berperan. Televisi bahkan bisa menjadi partner bagi sekolah untuk memajukan dunia pendidikan. Saya yakin banyak sekali program yang bisa dieksplor apabila para pemeran di balik layar televisi mempunyai niatan dan itikad yang baik.

Janganlah merusak bangsa ini dengan tontonan-tontonan yang justru membodohi mereka. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Tapi, sayangnya Indonesia masih kalah dengan negara-negara Asia yang lainnya dalam masalah pendidikan. Kita sudah tertinggal jauh dengan Jepang, China, Korea, bahkan tetangga sendiri yakni Malaysia. Sekarang inilah saatnya Indonesia berbenah. Saya yakin lewat tayangan-tayangan yang mendidik, yang memprioritaskan pendidikan di atas segala-galanya akan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan disegani. Budaya baca-tulis akan lahir kembali.

Masyarakat, terutama orang tua pun sangat diharapkan partisipasinya. Di zaman modern seperti sekarang ini, gaptek (gagap teknologi) adalah suatu kesalahan yang fatal bahkan bisa dikatakan penyakit yang kronis. Tetapi, jangan sampai terlalu memanjakannya. Media informasi seperti internet, handphone, dan televisi akan memberikan dampak yang positif jika kita tidak salah kaprah.

Sekarang sudah banyak perpustakaan daerah. Bahkan, mulai muncul perpustakaan pribadi. Hal ini harus dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Mulai dari sekarang kita harus menghindari hal-hal yang berbau hura-hura. Hindari tayangan televisi yang tidak penting. Hentikanlah budaya SMS yang justru merusak suasana belajar. Jadilah masyarakat Indonesia yang hobi baca-tulis. Majulah pendidikan Indonesia, jiwa ragaku hanya untukmu.

If you want, you can do it!

0 komentar: